Mahar Pernikahan, Lembaran yang Mengikatku Seumur Hidup


Saat akan melangkah yakin menuju pernikahan, pertanyaan "mahar apa yang akan kau minta" datang dari pihak manapun, baik calon suami, orangtua, keluarga, sahabat, bahkan diri sendiri. 

Mahar apa yang akan kuminta? Tanyaku sendiri pada diri sendiri kala itu. Ku pelajari singkat tentang mahar, 

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً اَيْسَرُهُ مَئُوْنَةً (رواه أحمد) ضعيف
Artinya: “Dari Aisyah ra bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; Sesungguhnya paling besarnya berkah dalam pernikahan adalah yang paling memudahkan dalam mahar” (HR. Imam Ahmad)
Aku tidak ingin menilai pernikahanku dengan materi, sehingga kuputuskan bukan emas ataupun uang yang akan kuminta apalagi portofolio dan aset. Aku juga tidak ingin meminta hapalan ayat yang tidak berwujud, aku butuh wujud fisiknya untuk ku kenang. Seperangkat alat sholat? Tidak, sebagai muslimah yang mengamalkan kewajiban shalat 5 waktu, aku punya beberapa pasang alat sholat. Aku ingin yang lebih spesial dari itu. Sehingganya, dengan pernikahan dimana sebuah kehidupan baru dimulai, dengan mahar tersebut pun aku bisa memulai ibadah yang belum pernah ku laksanakan sebelumnya.
Teringat olehku syarah hadits yang banyak terpajang di toko-toko buku. Sesuatu yang belum pernah kumiliki dan kupelajari. Ku timbang mazhab yang tidak bertentangan dengan lingkunganku. Kuputuskan meminta ini padanya:
mahar riyadhush shalihin

Hari itu, 3 September 2016,  setelah diucapkan olehnya "saya terima nikahnya Praftiwi Umitri dengan mas kawin lima syarah dan terjemah kitab riyadhush shalihin dibayar tunai" aku sah menjadi seorang istri.
Berapa harga mas kawinku? tidak sampai harga 1 gram emas, tidak sampai Rp 500 ribu, bahkan dia diberikan diskon oleh toko buku karena tahu kitab-kitab tersebut untuk mahar pernikahan, tabarakallah. Namun isi dari mahar ini mengandung hikmah seluas lautan, ilmu yang tidak akan habis, nasihat yang kekal.
kitab riyadhush shalihin

Sekarang, sudah hampir 4 tahun usia pernikahan kami, 1 jilid pun belum berhasil juga kuselesaikan. Jilid 2-5 pun harusnya masih tersegel plastik dengan rapi jika saja Ibro (buah hatiku) tidak mulai usil membukanya. Tapi keusilannya itu bagai pengingat buatku, ada 5 kitab yang menungguku untuk meneguk ilmunya.

2 Comments