Peluang Emas dari Grasberg

Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua

P
agi yang dingin setelah hujan semalaman membuat jalanan menuju pasar yang tak beraspal di sebuah kota kecil yang terletak di ujung negeri menjadi becek dan tak nyaman bagi kaki untuk melangkah. Namun semangat para warga melanjutkan rutinitas kesehariannya menjadikan pasar tetap ramai bahkan dengan langkah mereka yang tanpa beralaskan sepatu ataupun sendal.  Demikian cerita dari teman yang pernah menjalankan kuliah kerja nyata (KKN) di pelosok Indonesia timur.

Jalanan di Keerom

Papua adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia yang menyimpan budaya dan kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi. Dataran rendah dan tinggi yang menjulang berbaur menjadikan lekuk keindahan dengan hutan-hutannya yang masih rimbun. Stereotip yang terbentuk tentang Papua ialah hidup di dalam hutan, hidup di pedalaman, dengan pola kehidupan yang masih tradisional. 

Siapa yang sangka di tengah hutan di sebuah kaki gunung di pulau ini terdapat sebuah pusat peradaban yang dibangun dengan memukau, namanya Tembagapura. Lokasi ini dibangun oleh PT. Freeport Indonesia, di dalamnya terdapat bioskop, mall, pusat olahraga, kompleks perumahan dengan kabel-kabel listrik penyuplai yang sudah tidak menjuntai namun tertanam di tanah, semuanya rapi dan beraturan. Adapula rumah sakit dan institusi pendidikan.

Tidak hanya pembangunan di Tembagapura, akses menuju kesana pun baik jalur darat, udara, dan laut juga didirikan oleh mereka. Bukan hal mudah membuka akses di dataran terjal yang berkabut dengan suhu dan tekanan yang tidak begitu bersahabat. Keberadaan PT. Freeport Indonesia membuka belantara Papua menjadikannya ramai di datangi orang dari berbagai penjuru dunia, termasuk penduduk Indonesia dari provinsi berbeda. 

Papua adalah tanah imajinasi bagi manusia namun nyata di tangan Yang Kuasa. Ibarat dongeng disini ada sebuah gunung emas yang menjulang, hamparan subur yang membentang, serta lautan indah berkilau. Itulah Papua, hadiah Tuhan untuk Indonesia. 

Gunung emas adalah julukan yang pantas untuk Ertsberg. Penemu Ertsberg dulu dianggap bermimpi saat menceritakan kepada dunia hasil ekspedisinya dan terpana melihat gunung berkilau dengan salju di puncaknya walau terletak di negara tropis. Rupanya tak jauh dari Ertsberg terdapat lah Grasberg,  gunung emas lainnya yang ternyata menyimpan kelimpahan emas terbesar dan tembaga 3 besar dunia. PT. Freeport Indonesia diberi kepercayaan sebagai kontraktor pengelola atas kelimpahan mineral ini agar dapat berguna untuk menyokong kemajuan peradaban dunia khususnya Indonesia terlebih bagi warga Papua.

Sekarang kita telah berada di era serba teknologi. Lihatlah sekitar kita, peralatan listrik atau elektronik ada dimana-mana. Nah, apa yang paling utama dalam komponen listrik? Selain sumber energinya, listrik butuh penghantar alias konduktor, dimana konduktor yang terbaik adalah tembaga. 

Dengan keberadaaan Grasberg yang tak jauh dari Tembagapura di bawah kelola PT. Freeport Indonesia, seharusnya membuat kita konfiden. Pada kondisi kemajuan teknologi yang selalu membutuhkan aliran listrik, Indonesia memiliki salah satu industri penyokong bonafit. Dengannya kita menjadi salah satu nadi penentu harga tembaga dunia, komponen utama kebutuhan perusahaan kabel. Freeport Indonesia memberikan sumbangsih bagi negeri dengan hasil komoditas tambang yang dikelolanya.

Peluang yang diberikan Grasberg tidak hanya berdampak baik bagi Indonesia namun juga bagi pemuda Papua khususnya. PT Freeport Indonesia mendirikan Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN). IPN hadir sebagai bentuk komitmen dalam pengembangan kapasitas masyarakat Papua pada sektor pendidikan. Keseluruhan biaya operasional saat menempuh pendidikan ditanggung oleh perusahaan bahkan siswanya juga diberikan uang saku dan biaya lain penyokong pendidikan. Sungguh menarik bukan?

IPN berdiri di atas lahan seluas 6 hektar. Selain memiliki staff pengajar berkualitas, IPN juga didukung dengan fasilitas dan peralatan modern. Sebentar lagi IPN akan menginjak usia 17 tahun. Sudah lebih dari 4000 pemuda Papua  yang mengenyam pendidikan disini.

IPN adalah peluang emas bagi pemuda Papua. Bagaimana tidak, dengan ilmu pertambangan yang ditawarkan, mereka pun dapat berhadapan langsung dengan objek pertambangannya, yakni tambang tembaga dan emas. Ilmu tidak sebatas teori namun bisa dipraktekan langsung di lapangan. Tinggal kemauan itu ada atau tidak.


Tahun lalu IPN telah menyediakan 20 jurusan teknik dan 3 jurusan akademik. Ada program menarik yang juga mereka tawarkan yakni Papuan Bridge Program untuk alih jenjang ke strata sarjana yang mana siswa terpilih dapat melanjutkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia salah satunya program sarjana di ITB dengan beasiswa tentunya.

IPN adalah bukti nyata atas kontribusi Freeport untuk masyarakat. Terutama bagi 7 suku (Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Moni, Me/Ekari, dan Nduga), sayang jika melewatkan peluang yang terbuka lebar. Bentuk perhatian dan harapan besar PT. Freeport Indonesia terhadap penduduk setempat patut diapresiasi. Karena pembangunan terbaik itu adalah pengembangan manusia-nya. Mereka pun butuh tenaga ahli profesional dan subprofesional yang mampu diserahkan atas pengelolaan kekayaan ladang bijih mineral tersebut yang terlihat dari seringnya PT. Freeport Indonesia membuka lowongan pekerjaan bagi muda-mudi Indonesia sesuai bidangnya.

Kitong putra asli daerah jang sampe sia-siakan kesempatan emas ni yang di depan mata, nan kitong rugi

#FreeportIndonesia #NarasiDariPapua #MiningForLife

0 Comments