Pengalaman Nyaleg - Part 2 (Penyumbang Kursi Melenggang ke Gelanggang)


Dengan kepercayaan yang diberikan Partai Balairung untuk mencalonkan diri sebagai legislatif mahasiswa kala itu, membuatku belajar dasar politik aktif secara langsung. Tentang bagaimana kita diusung, tentang supporter, tentang upaya kampanye, serta niat yang akan menentukan hasil.

Sebagai seorang anak teknik, walaupun termasuk dalam barisan aktivis, aku bukanlah seorang aktivis yang berkoar-koar menyuarakan aspirasi. Semi apatis, semi pragmatis, namun ingin menjiwai. Tapi ibarat kata-kata yang biasa diucapkan sesama teman aktivis "tidak ada ghirah yang muncul". Demikian kala kampanye itu.

Hanya pada teman-teman yang kebetulan ketemu aku mengabari bahwa aku nyaleg kampus. Sebagian merespon positif, sebagian merespon tak percaya, dan sebagian lagi bertanya "bagaimana caranya?".

Tibalah hari PEMIRA (pemilihan raya mahasiswa). Kotak suara dan surat suara telah rapi terjaja depan setiap jurusan. Kepada setiap teman yang berpapasan aku sampaikan "Hey, ada fotoku loh di surat suara, coblos ya".

Momen penghitungan suara dimulai. Semua suara masuk dibawa dan dilakukan penghitungan di gelanggang mahasiswa. Aku tidak hadir menyaksikan langsung perhitungan.

Keesokan harinya, mas AG (putra pak dekan saat itu) menghampiriku 

"Wah banyak yg nyoblos bu caleg ya.. Masuk gelanggang nih?"

Karena tidak melihat perhitungan aku tidak tahu apakah mendapat suara banyak atau tidak.

"Oh iya po mas? aku gak datang kesana kemarin."

Mas OZ yang mengusungku pun belum ada memberi kabar.

mas AG memberiku info "kayaknya hampir semua anak tekfis milih calegnya kamu."

"suara 1 jurusan ini doang mas, jurusan lain kayaknya gak ada yang milih aku"

"jangan salah jurusan lain itu yang ikut milih di PEMIRA ini cuma dikit, paling 30% dan mereka tersebar banyak pilihan caleg" jawabnya.

Setelah sekian waktu akhirnya mas OZ menghubungiku memberikan kabar bahwa dari total suara yang masuk, partai kami hanya memperoleh jatah 1 kursi di gelanggang dan kursi tersebut akan diberikan ke caleg nomor urut-1. 

Dari situ aku belajar, ketika pencalonan suara yang diterima masing-masing calon adalah kontributor untuk penentu jumlah kursi bagi partai. Tentang siapa nanti yang mendapatkan jatah kursi memang otoritas partai. Jadi aku gak heran saat Mulan Jameela mendapat kursi walau jumlah suaranya kalah dari calon yang lain. Dari situ juga aku gak heran kenapa ada orang yang begitu awet duduk di kursi senayan walaupun citranya sudah tak baik lagi, karena dia yang dipercayakan partai.

0 Comments