Banjir Bandang Bengkulu, Teringat akan Tanah Leluhur

Minggu lalu provinsi Bengkulu tertimpa musibah banjir bandang. beberapa  ruas daerah masih tertutupi genangan air. sungai-sungai meluap. karena derasnya arus, bahkan beredar di masyarakat video jembatan beton  disebuah sungai patah dan terseret arus. dari lini media massa diketahui tidak hanya 1 lokasi jembatan yang mengalami kerusakan, namun ada banyak jembatan yang patah.

musibah banjir bandang seperti ini, belum pernah aku alami selama aku tinggal di Bengkulu, sejak aku lahir tahun 1991. banjir bandang yang terjadi kali ini termasuk bencana besar.
Sumber: teman-teman grup WA "Keluarga Cendana 06-09"

terlihat dari foto berikut, air di Danau Dendam Tak Sudah yang merupakan objek wisata kota Bengkulu juga ikut meluap hingga ke jalan raya.
sumber: share foto whatsapp

Indahnya pemandangan Danau Dendam Tak Sudah sebelum banjir.
sumber: https://bengkuluekspress.com/wisata-danau-dendam-kian-diminati/



dari meluapnya air Danau Dendam Tak Sudah, terdengar kabar adanya buaya yang memasuki perkampungan warga sekitar.

Rumah orangtuaku yang beralamat di Jl. Hibrida alhamdulillah aman dan terbebas dari bencana banjir. teori yang disebutkan kedua orangtuaku: jika rumah kami yang berlokasi di ketinggian 34 mdpl tersebut terendam banjir atau tsunami maka Bengkulu tenggelam.

provinsi Bengkulu memiliki banyak sekali sunga-sungai. sungainya masih bersih dan memiliki aliran air yang deras. Sungai menjadi tumpuan kehidupan masyarakat, karena di Bengkulu sebagian besar masyarakat hidup dari sawah dan pertanian.

fenomena banjir bandang dan meluapnya sungai-sungai ini mengingatkanku akan sejarah yang diceritakan oleh orangtua dan para kerabat, tentang kampung halaman ayahku. 
tersebutlah sebuah desa "Pulau Tengah" di kabupaten Kaur yang habis oleh banjir bandang tahun 1986. disanalah tempat masa kecil ayah, rumah kakek & nenek.

untuk sampai ke kabupaten Kaur dari kota Bengkulu, perlu waktu tempuh sekitar 5 jam. lokasi Pulau Tengah masih kesana laginya pusat kabupaten Kaur.

foto tersebut aku ambil di tahun 2013. di seberang jembatan itulah desa "Pulau Tengah". disebut Pulau Tengah karna lokasinya diapit oleh 2 sungai. jadi dibalik daratan pada foto diatas masih ada sebuah sungai lagi. berikut foto satunya.
nah, dibalik pepohonan di gambar itu, disanalah makam leluhurku; bini, tamang, tuyuk (kakek, nenek, buyut) dari pihak ayah.
desa Pulau Tengah yang dulunya perkampungan penduduk sudah tidak ada lagi. sejak terjadinya banjir bandang 1986 yang melahap seluruh perkampungan penduduk, pada tahun 1989 pemerintah setempat menyosialisasikan seluruh penduduknya untuk pindah. desa tsb beralih fungsi menjadi area persawahan dan perkebunan hingga sekarang.
jadi aku tidak pernah melihat rumah masa kecil ayahku.

itulah tanah leluhurku..Kaur, tanah yang menyimpan banyak kebudayaan.

0 Comments