Bersuamikan Seorang Freelancer

tulisan ini sengaja aku tuangkan sebagai respon diri menanggapi berbagai stigma kerabat, baik teman, kolega, terlebih keluarga terkait keputusan suami resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi seorang freelancer.

singkat cerita, saat menikah kami sama-sama bekerja. setelah Ibro lahir, aku memutuskan berhenti bekerja untuk mengasuh Ibro. tibalah critical time dimana aku jenuh tidak bekerja dengan kondisi kehidupan Jakarta yang individualis apalagi kami tinggal di apartemen, seorang ibu muda yang mengurus anak sendiri tanpa nanny dan pembantu serta tidak bertetangga. sehingganya aku ingin bekerja kembali. ternyata di RU IV Cilacap sekarang lah tempat yang Allah perkenankan untukku.

papayi alias papabro ridho aku bekerja di Cilacap ini. mungkin inilah jalan agar kami keluar dari kepenatan ibu kota, katanya. aku mulai kerja pada Sept 2018, telah direncanakan bahwa papayi akan resign di awal tahun 2019. namun papayi baru diperkenankan resign oleh kantornya Maret 2019 ini. dari Sept 2018 hingga Maret 2019 kami menjalani long distance marriage. Alhamdulillah sekarang sudah bersama kembali.

suamiku berhenti kerja terhitung 6 Maret 2019. bukan disebabkan stress di tempat kerja ia memutuskan resign, bukan karena gaji yang kurang, ataupun karir yang tidak menjanjikan, tapi sudah pertimbangan bersama.

saat bekerja di kantornya tersebut, papayi posisinya sebagai UI/UX designer yang single fighter disana, alias diposisi tersebut dia sendiri bos dan dia jugalah bawahannya. memang kalo diingat load kerjanya sangat tinggi, jadinya aku justru bersyukur dia resign.
pernah saat kami masih bersama tinggal di Jakarta, Ibro sedang demam cukup tinggi. aku panik jika Ibro sakit. saat itu jam 1 malam, suamiku masih di kantornya menyipakan materi yang akan dimeetingkan keesokan paginya.
hari-hari di rumah pun banyak dia habiskan di depan komputer sekalipun hari libur, mengejar deadline. tapi sering juga di hari kerja dia tidak berangkat ke kantor dan melakukan pekerjaannya secara remote dari komputer di rumah. biasanya seperti ini kalo sedang menggarap animasi yang memakan waktu untuk render dan itu dimaklumi serta diperkenankan oleh kantornya.

kalo berenti kerja gimana punya rumah dan kendaraan?
betul kami masih status mengontrak di tempat tinggal yang sekarang di Cilacap ini. namun Alhamdulillah kami sudah memiliki 1 unit apartemen studio di Cakung, Jakarta Timur. dan juga kami sudah memiliki 1 unit rumah tapak di bekalang kampus IAIN kota Bengkulu, sekitar 5km dari rumah orangtuaku. semoga investasi ini bisa mendatangkan keuntungan nantinya.
untuk kendaraan Alhamdulillah juga sudah punya walaupun belum roda 4.

 

apakah project freelance suami sudah jalan?
alhamdulillah sudah pegang 2 project, walaupun nilainya sekitar 1/4 dari penghasilan saat dia masih karyawan. semua itu harus disyukuri dan belajar menyesuaikan dengan keadaan. semoga terus berdatangan project lainnya. Amiin. setidaknya kami pernah merasakan saat-saat pemasukan per bulan hampir 25 juta.

disamping project freelance papayi juga akan menggarap start-up yang tengah dia dan teman-teman bangun. secara hukum, badan usaha dari start-up ini telah terdaftar sebagai sebuah Perseroan Terbatas dan juga telah menyewa sebuah office virtual di Satrio Tower berlokasi di daerah kuningan Jakarta. Kalo produknya sudah rilis insyaallah akan aku perkenalkan, nanti produk start-up nya diakses dan gunakan jasanya ya!

seandainya papayi ingin bekerja lagi?
kita harus mengejar apa yang dicita-citakan. aku dukung apapun cita-cita suamiku yang baik baginya dan keluarga kami. aku bangga dengan keahlian dan kemampuannya (walopun ada kebiasaan dia yang gak aku sukai, hehe).
dulu saat kecil, aku pernah membayangkan dan berkhayal punya suami yang bekerja di Walt Disney. dilalah punya suami yang punya kemampuan untuk membuat animasi.
ya kalo dia mau kerja lagi, aku berharap dia akan kerja di Walt Disney. hahaha

0 Comments